Internet
Travel lampung jual blumen Paket Umroh Bulan Maret 2016 jual herbal pelangsing tanpa efek samping
HOME ABOUT US LEGALITAS NEWS / ARTICLE SPESIAL PROMO RISET INFO EMAIL Video Panduan
Categories
Artikel 
Backlink 
Blogspot 
Facebook 
Google 
Hosting 
Instagram 
Internet 
Internet Marketing 
SEO 
Twitter 
Whatsapp 
Wordpress 
Marketing Team
Telepon
0812 - 843 - 29553
0818 - 069 - 55207
0858 - 830 - 01535
Our Office
CV. Morosakato
Jl. Damai I No. 37 Harapan Jaya, Bekasi Utara Kota Bekasi 17124
Konsultasi Internet Marketing (Gratis)
Putra Candra Buana
Telepon
0821 - 145 - 86565
Pin BB
74066D3D
Customer Service
Ponsel
0812 - 843 - 29553

Import Blogspot
Hadist Bermaaf-maafan Sebelum Ramadhan
Antara Puasa Dan Tauhid
Puasa Demi Menggapai Ridho Illahi
Warna Lidah Menandakan Adanya Penyakit
Manfaat Rebung untuk Kesehatan Tubuh Kita
10 Tips Mudik
Tips Menulis Artikel SEO Friendly
indahnya ramadhan
ASTAGA, WAJAH BUMI TIDAK BIRU LAGI
MENURUT ILMUWAN, CARA NABI MUSA BELAH LAUTAN
Gadis Ini Di Kecam banyak Orang Gara Gara Status Facebook
Pesan Salah Satu Korban Pesawat Air Asia Sebelum Jatuh
Bumi Akan Gelap Total selama 3 Hari Prediksi NASA
Manfaat Buah Apel
Hewan Qurban

Internet Bikin Orang Tak Percaya dengan Kemampuannya?

Di balik 'kepandaian' internet yang bisa didapat dalam waktu singkat, ternyata ada dampak kurang baik. Berkat cara instan tersebut, orang-orang menjadi lebih enggan mengandalkan pengetahuannya. Mereka lebih merasa percaya diri terhadap informasi yang diperoleh dari akses internet. Hal ini mengindikasikan kalau hubungan seseorang dengan internet mempengaruhi cara berpikirnya. Dalam penelitian terbaru bersama timnya, Prof. Evan F. Risko dari Departemen Psikologi University of Waterloo menanyai 100 partisipan sederetan pertanyaan terkait pengetahuan umum -- misalnya seperti apa nama ibukota Prancis. Mereka lalu diminta memberi isyarat apakah mereka tahu jawabannya. Di separuh bagian studi tersebut, partisipan diberi akses internet. Kalau mereka menjawab tidak tahu, mereka diminta untuk mencari jawabannya di internet. Sedangkan pada sisa uji coba itu, peserta tak diperbolehkan mencari jawaban di internet. Melalui percobaan tersebut, tim peneliti mengetahui bahwa orang yang memiliki akses internet mempunyai kecenderungan 5% lebih tinggi untuk menjawab 'tidak tahu'. Selain itu, dalam konteks tertentu, partisipan yang punya akses internet melaporkan adanya perasaan seolah mereka tahu lebih sedikit dibanding mereka yang tak punya akses. "Dengan tersedianya jaringan internet di mana-mana, kita hampir selalu terhubung secara konstan ke informasi yang berlimpah jumlahnya. Dan kalau informasi tersebut bisa dijangkau, orang menjadi... Lanjutkan Membaca
Last update : 09/12/2015

10 Negara dengan Koneksi Internet Terburuk di 2015

International Telecommunication Union (ITU) baru saja merilis sebuah laporan yang mengungkap ICT Development Index (IDI, Indeks Pembangunan TIK). ITU merupakan badan khusus bentukan Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Tiga area (sektor) utama yang menjadi fokus perhatian dari ITU adalah radiokomunikasi, standardisasi, dan pengembangan. Adapun laporan yang dirilis ITU didasarkan pada sejumlah aspek, yakni kecepatan internet (bandwidth, yang diukur dalam bit per detik), volume langganan internet tetap per 100 orang, persentase rumah tangga dengan komputer, serta persentase rumah tangga dengan internet, yang memberikan skor skala 10 kepada negara yang bersangkutan. Di laporan tersebut, terdapat peringkat IDI dari 167 negara. Tanpa basa-basi lagi, berikut ini 10 negara dengan koneksi internet terburuk di 2015.  Peringkat terakhir atau peringkat 167 ditempati oleh Chad. Negara di Afrika Tengah, yang mengantongi skor 1.17 dari skala 10. Dibandingkan dengan tahun 2010, Chad turun satu peringkat dari 166. Namun jika dilihat dari skor, Chad justru mengalami peningkatan karena skor IDI yang diraihnya pada 2010 lalu hanya 0.88. Lalu di posisi 166 bertengger Eritrea, yang juga sebuah negara di Afrika. Padahal pada 2010 lalu Chad duduk di... Lanjutkan Membaca
Last update : 04/12/2015

HomeGlobal Internet Nirkabel Cahaya, Pengganti Wi-Fi?

Teknologi internet nirkabel saat ini, yang biasa disebut Wi-Fi, terancam turun pamornya. Hal ini dikarenakan dengan adanya teknologi Li-Fi (Light-Fidelity) yang diakui 100 kali lebih cepat. Dengan cahaya, Li-Fi mampu mengirim data menggunakan teknologi visible light communication (VLC)-- medium cahaya yang terlihat mata. Teknologi ini sedang dalam uji coba di kantor-kantor dan lingkungan industrial Tallinn, Estonia. Sistem nirkabel ini memiliki kecepatan 224 gigabita per detik-- berpotensi merevolusi penggunaan internet. Harald Haas dari University of Edinburgh, Skotlandia, menemukan Li-Fi pertama kali pada tahun 2011 lalu. Haas mengungkapkan bahwa ia bisa mengirimkan data lebih banyak daripada menara selular-- dengan cahaya dari lampu neon. Sistem ini bekerja dengan cara yang mirip dengan kode Morse, menggunakan VLC. Namun beroperasi pada kecepatan yang terlalu tinggi untuk bisa dideteksi oleh mata telanjang.     Sistem nirkabel Li-Fi bisa memiliki kecepatan 224 gigabit per detik. (foto: Daily Mail)   Teknologi Li-Fi menggunakan cahaya yang bisa dilahat oleh mata-- antara 400 dan 800 teraherts (THz) melalui kode binari, memberikan kemampuan untuk mendownload 18 film dengan kecepatan 1,5 GB... Lanjutkan Membaca
Last update : 25/11/2015

Lansia pun Kepincut Media Sosial

Media sosial saat ini tengah digemari oleh para pengguna internet, termasuk orang-orang yang sudah lanjut usia (lansia). Menurut laporan lembaga think tank Amerika Serikat (AS), Pew Research Center, jumlah lansia yang menggunakan media sosial mengalami peningkatan. Berdasarkan datanya, 35 persen semua orang dewasa dengan umur 65 tahun ke atas telah menggunakan media sosial. Jumlah tersebut menandai peningkatan tiga kali lipat daripada lima tahun lalu. Pada 2010, hanya 11 persen lansia yang mengaku menggunakan media sosial, sedangkan jika dibandingkan dengan 2005, jumlah penggunanya jauh lebih besar. Saat itu hanya 2 persen lansia 65 tahun ke atas yang menggunakannya. Sayangnya Pew Research Center tidak mengungkapkan faktor pendorong tren tersebut. Namun Pew Research Center pernah mengungkapkan beberapa alasan orang-orang menggunakan media sosial, di antaranya untuk terhubung kembali dengan teman-teman lama dan menutup kesenjangan generasi. Dalam laporan yang sama, juga diungkapkan jumlah pengguna media sosial dari kalangan anak muda dengan rentang umur 18 - 29 tahun. Sebesar 90 persen dari mereka adalah pengguna media sosial. Dikutip dari Business Insider, Selasa (10/11/2015), laporan Pew Research Center ini... Lanjutkan Membaca
Last update : 10/11/2015